Sistem Informasi Manajemen – Isu Sosial dan Etika dalam Sistem Informasi

My World

Isu Sosial dan Etika dalam Sistem Informasi

Ditujukan sebagai tugas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen

 Logo_Unswagati

 KELOMPOK :

ALLAN M.Z.K (111040101)

FITRI FAWZIA FAJRY (111040104)

IIP SHOFIANAH (111040117)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Lihat pos aslinya 5.956 kata lagi

Iklan

Tukang Kebun-​Rabindranath Tagore

Lirik 26
“Apa yang datang dari tanganmu rela,kuterima. Aku tak minta apa pun lagi.”
“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”
“Jika ada bunga yang tersasar untukku,mau aku memakainya di hatiku.”
“Jika ada duri?”
“Mau aku menahan deritanya.”
“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”
“Jika pun hanya sekali akan sudi kau membukakan matamu jelita memandang wajahku,akan cukuplah itu membuat hidupku manis sesudah mati.”
“Tetapi jika hanya pandang yang bengis dan kejam?”
“Mau aku membiarkannya menusuki hatiku.”
“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”
 
Lirik 30
Engkau awan senja yang melayang di langit mimpi-mimpiku.
Kulukis engkau dan kubentuk engkau selalu dengan rindu kasihku.
Engkau  punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang tak berwatas!
Kakimu merah mawar karena nyala gairah hatiku,Pemungut nyanyi senjaku!
Bibirmu sedap-pedih karena rasa anggur kesedihanku.
Engkau punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang sunyi!
Dengan bayang-bayang nafsuku telah kukelamkan matamu,Pemburu lubuk pandangku!
Telah kutangkap engkau dan kulihat engkau,Kekasihku,dalam jaring musikku.
Engkau punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang tak kunjung mati!
 
Lirik 31
Hatiku,burung rimba raya itu,mendapatkan langitnya di matamu.
Matamu itu buaian pagi,ia kerajaan bintang-bintang.
Nyanyian hilang di dalamnya
Biarlah aku terbang membumbung di langit itu,dalam keluasannya yang sunyi,tak berwatas.
Biarlah aku menguakkan awannya dan mengambangkan sayap di sinar suryanya
 
Lirik 47
Jika demikian kehendakmu,aku akan berhenti bernyanyi.
Jika membuat hatimu berdebar,aku akan mengalihkan mataku dari wajahmu.
Jika menyebabkan jalanmu tertegun tiba-tiba,aku akan menyisi dan mengambil jalan lain.
Jika mengacaukan hatimu dalam merangkai bunga,aku akan menjauh dari kebunmu sunyi.
Jika menyebabkan air bertingkah dan ganas,aku tak akan mengayuh bidukku menyusuri tepi sungaimu.
 
Lirik 50
Kekasih,siang dan malam hatiku rindu akan pertemuan denganMU,akan pertemuan yang laksana maut menelan segala.
Halaukan aku bagai topan,ambil segala kupunya,koyakkan tidurku dan rampas impianku. Rebut aku dari duniaku.
Dalam kesirnaan itu,dalam ketelanjangan jiwa yang sempurna,biarlah kita menyatu dalam keindahan.
Alangkah sayangnya hasratku yang sia-sia! Dimanakah harapan akan menyatu ini  kalau tidak dalam diriMu,Tuhanku?
 
Lirik 52
Mengapa padam lampu itu? Kunaungi dia dengan bajuku untuk kuselamatkan dari angin. Itulah sebabnya mengapa padam lampu itu.
Mengapa layu bunga itu? Kutekankan dia kehatiku dengan kasih yang cemas,itulah sebabnya mengapa layu bunga itu.
Mengapa kering sungai itu? Kulintangkan bendung di sana untuk kuambil gunanya bagiku,itulah sebabnya mengapa kering sungai itu.
Mengapa putus  tali kecapi itu? Kucoba memaksakan bunyi yang ada di luar kemampuannya,itulah sebabnya mengapa putus tali kecapi itu.
 
Lirik 58
Suatu pagi dalam kebun bunga seorang gadis buta datang memberikan untaian bunga kepadaku,dalam bungkus daun seroja.
Kukalungkan untaian bunga itu di leherku,dan berlinanglah airmataku.
Kucium dia dan kataku,”Engkau buta seperti bunga-bunga itu pula. Engkau sendiri tidak tahu betapa indahnya pemberianmu.”
 
Lirik 69
Aku berburu kijang kencana. Kau boleh tersenyum, Kawan,tetapi aku mengejar angan-angan yang terlucut lepas meninggalkan aku.
Aku berlari melalui bukit dan lembah,aku mengembara melintasi negeri-negeri tak bernama,karena aku berburu kijang kencana.
Kau datang dan berbelanja di pekan dan pulang ke rumah,penuh membawa  barang-barangmu;tetapi pesona angin yang tak bersarang telah menyentuhku,tak tahu aku kapan dan dimana.
Tak ada cemas dalam hatiku;segala milikku kutinggalkan jauh di belakangku.
Aku berlari melalui bukit dan lembah,aku mengembara melintasi negeri-negeri tak bernama,karena aku berburu kijang kencana.
 
Lirik 75
Pada tengah malam orang yang menamakan diri p

Huruf 

HURUF
Wahai huruf,

Bertahun kupelajari kau,

Kucari faedah dan artimu,

Kudekati kau saban hari,

Saban aku jaga,

Kutatap dikau dengan pengharapan,

Pengharapan yang tidak jauh

Dari hendak ingin dapat dan tahu.
Tetapi; kecewa hatiku.

Kupergunakan kamu

Menjadi senjata di alam kanan,

Agaknya belum juga berfaedah

Seperti yang kuhendakkan.

Selalu dikau kususun rapi

Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,
Tetapi….

Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,

Tak kuasa aku menyusun kamu

Hingga susunan itu dapat dirasakan pula

Oleh segenap dunia

Sebagai yang kurasa pada waktu itu.
Alangkah akan tinggi ucapan

Terimakasihku, bilalah kamu

Menjadi buku terbuka bagi manusia yang membacanya.
Kalaulah aku direndam lautan api,

Hendaklah kamu meredam pembacamu,

Bilalah aku disedu pilu,

Hendaklah kamu merana dalam hatinya.
Huruf, huruf….

Apalah nian sebab maka kamu

Belum tahu akan maksudku?

-Pramoedya Anantatur

Didua mata senja

Didua mata jendela

Lembayun senja porak poranda

Seorang mengutip puisi senja

Tapi senja kali ini sungguh berbeda.

Aku menyimpan catatan di meja, kosong.

Yang tertulis hanya pelamun di meja tua.

Kisah masa muda, perang, politik dan negara melilit kepala.

Sesekali condong ke belakang.

Seperti akan datang seseorang dengan deretan pertanyaan.

“Andai aku tertembak hari itu, cerita lebih indah dari derita.

Andai rasa ingin tahu manusia tidak pernah ada.

​TAK ADA YANG MENCINTAIMU SETULUS KEMATIAN – Aslan Abidin

ketika engkau
lahir dan ummi shibyan mencubitmu

agar menangis pertanda hidup, bersama kilau

cahaya pertama yang menyusup ke biji matamu,

kematian datang menjelma bayanganmu

agar dapat terus mengikutimu.

ia menguntitmu ke mana pun engkau

pergi. ke puncak gunung tertinggi atau

ke palung laut terdalam. sepanjang hidupmu

ia bertengger lekat di tengkukmu.

meski tak mencemaskanmu,

ia bergidik-menyeringai juga ketika engkau

menatap jurang yang dalam.

meski ia agak gemetar pula,

tapi suka menggodamu ketika

engkau menyeberang jalan yang ramai.

tak seperti lelaki murahan atau

perempuan hidung belang yang telah menipumu,

ia setia, tak pernah ingkar janji, dan selalu

tepat waktu.

ketika engkau berteriak girang

atau terpekur sedih setelah lelah bertualang

ke lekuk-penjuru seluruh bumi, kematian akan

berdiri tersenyum di hadapanmu.

ia merentangkan

tangan memperlihatkan

rahasiamu yang selama ini ia simpan sambil berkata:

“tinggal kematian petualangan yang tersisa.”

tak ada yang mencintaimu setulus kematian.

Berl(aku)

Setiap detik adalah detak yang tertata.
Aku segumpal daging dan tulang diberi nyawa lalu dilekatkan nama.

Setiap menit adalah getar yang menetap.

Aku berada diputaran pori-pori waktu, dihitung dan dipasung rasa tahu melilit di tubuh yang perlahan tumbuh.

Setiap jam adalah petakan laju yang berarus. Kelambanan dicari-cari dan kenangan diganti-ganti.

Aku terlibat masuk dalam panggung dan mengambil peran kaku, adakalanya jadi pelaku yang memotong lakon sendiri.

Setiap hari meliputi matahari dan bulan saling memantau dan memukau.

Aku lelah dan lelap dihadapan semua hari, tak jarang aku menatap langit tapi cahaya tetap berbahasa yang sama.

Setiap pekan adalah jeda yang terencana, memotret dan memajang keterasingan.

Aku berada dalam tumpukan hari. Mengendap tanpa ditahu kapan saatnya untuk bangkit melawan rasa malas dan rasa takut.

Setiap bulan adalah satuan eletron yang terus berputar membentuk satuan baharu yang beransur memudar.

Aku tidak dalam kebaruan, juga tidak dalam pusaran waktu. Aku hanya entitas yang kurang nan gelap.

Setiap tahun adalah permulaan yang tanggung, diulang-ulang hingga senyawa mati tertimpa usia.

Aku merasa pernah menjadi diri yang lain dimasa lampau juga kini, alasan untuk menjadi diri sendiri dan terlahir kembali sebagai aku yang dipeebaharui waktu.

8/7/2017

Mudik

“Kepergiaan adalah sebuah cita-cita dan kembali adalah tujuan dari semua perjalanan.”

Entah dimana dan kapan saya mendengar kalimat ini. Sangat mengganggu tentunya, apalagi teman-teman di @arakata mulai menjalankan kegiatannya dengan menulis yg bertema mudik. Saya tiba-tiba hang. Bingung mau nulis apa dan mulai dari mana. Tapi saya sudah berjanji akan menulis dan menyetornya tepat waktu maka saya tulis saja dengan begini rupa:

1) mudik adalah cara diri seseorang menyelamatkan diri dari kekacauan dan kicauan yang bertebaran. Kota adalah tempat dimana kau atau aku sama-sama di cekik udara dan merasa ingin pindah sekedar berganti latar.

2) mudik bagi saya adalah wacana, sejak lima tahun terakhir saya mendiami kota ini dengan hiruk pikuknya dan harus saya tanggung setiap datang tradisi mudik saya sudah terbiasa hidup dengan membangkang. Saya tumbuh di kampung dan lumpuh di kota.

3) mudik berisi kepergian dan lambaian tangan dari seorang petualang akan pulang memikul rindunya. bagi saya mudik itu mencekap mirip seperti orang-orang yang hilang di renggut kekuasaan.

4.) Mudik itu mengusik. Jalan-jalan, terminal, bandara dan disemua tempat adalah titik pisah antara pelarian dan keinginan yang lama terpendam. Seorang seperti saya akan lebih mudah berandai-andai dengan kepergian sebab menetap tidak menjamin bayangan pematang sawah, kicau burung, rumah panggung, udara sejuk, begitu ramai dalam kepalaku.

5) mudik harus dimodifikasi. Saya pernah berangan-angan kalau setiap yang pergi tidak usah kembali dan yang ditinggal patut menyusul. Saya ingin melihat setiap kota penuh dan tidak tumpah. Semua orang berdiam dan tidak kemana-mana. Saya membayangakn diri saya disana sedang mengharap kiamat lebih cepat.

6) mudik perlu fasilitas yang lengkap. Bagi seorang yang pulang mesti dapat pelayanan yang memadai. Mungkin salah satu agenda penting saya jika jadi tokoh pemerintahan kelak. Setiap pemudik dibekali dengan jaminan keselamatan, ruang tunggu diterminal dan bandara akan di hibur orang-orang kesenian. Dalam perjalanan, ada panti pijat untuk pe-roda dua, yang kembali dari kampung jalur udara disambut oleh artis ibu kota. Tapi sebelumnya, saya sudah membakar semua kampung halaman orang-orang karena saya butuh keramaian setelah sepi ditinggal mudik orang-orang.

7) mudik adalah fantasi sesaat bagi orang yang depresi. Kadang sesuatu butuh kebaruan. Dengan ber-mudik orang-orang dapat memperbaharui titik temunya dengan keluarga, kerabat dan sanak famili lainnya. Saya membayangkan pintu di isi pelukan isak tangis dan ruang tamu pecah kisah lucu dan para cucu-cucu. Jangan lupa, reunian dengan teman SMP, SMA bahkan teman sepermainan. Kita datang dengan segudang cerita yang tidak kita miliki.

8) jika saya mudik maka akan asing sendiri dengan perjalanan, pertemuan, dan ruang bersama. Mungkin kebiasaan baru menjadi ancaman tersendiri bagi saya. Tapi jika diberi kesempatan saya hanya ingin membawa sedikit bekal kata untuk ukiran nisanku kelak. Saya ingin dikubur di kampung halaman dan sebuah pohon gersen diatasnya berharap anak-anak kampung datang memetik buahku yg kecut. Saya akan tertawa mendegar mereka mencicipi buahnya sambil berbicara dalam hati. Begitulah rasanya orang yang lama tinggal dikota: kecut bukan!

9) mudik adalah sebuah dimensi spritual. Seperti pepetah yg bilang “yang mengenal dirinya yang mengenal Tuhannya.” Saya juga berkila dari kalimat diatas jika perjalanan terjauh adalah diri sendiri. Siapa saja boleh pergi tapi sekali lagi kita sulit melupakan kepulangan. 

10) mudik itu dialami bukan untuk diamati. Tapi saya sudah mengamati mudik lewat siapa saja yang ingin pergi menjenguk atau memungut jejak kenangannya kembali. Saya tidak berhak 

Puisi Edgar Allan Poe

A DREAM  WITHIN A DREAM

Taruhlah kecupanmu di kening

Pisahkan dari dirimu sekarang

Hingga sepenuhnya aku mengakui

Kau tak lagi keliru, menganggap

Hari-hari aku yang begitu mimpi

Keinginan yang jauh melayang

Di malam, di siang

Di harapan, di kehampaan.

Tersebab itukah kepergian?

Seluruh yang kita lihat dan nampak seolah-olah

sebuah mimpi di dalam mimpi

Aku berdiri diantara deru

pangkal—ombak—kesedihanmu

Dan menggenggam diriku sendiri,

Sebagaimana hamparan kekuningan

pasir yang berbiji-biji.

Sedemikian  papanya, mereka merayap

melewati jari-jariku

Sementara aku menangis—aku menangis.

O tuhan, tak dapatkah itu semua aku miliki

dengan sesuatu yang lebih erat dari genggaman?

O tuhan, tak dapatkah salah satu riuh beringas

dari gelombang itu aku simpan?

Apakah yang kita lihat dan nampak memang

sekedar mimpi di dalam mimpi?

[Edgar Allan Poe]

Bunyi, kembali!

Aku belum tidur. Sunyi

Bunyi aku dengar berkali-kali kembali kedadaku. Getar

Gemar datang sebagai tamu, dan kau paham mengapa aku sendiri-keluar adalah kecemasan yg baru.

Seseorang harus tahu didalam aku. Ada pelaku merekam jejaknya sendiri sebagai waktu. Menunggu adalah kata-kata tangguh namun tunduk pada aturannya sendiri, dia atau kau yang kesebut tadi belum juga berbunyi.

sunyi!

Kembali!