Mudik

“Kepergiaan adalah sebuah cita-cita dan kembali adalah tujuan dari semua perjalanan.”

Entah dimana dan kapan saya mendengar kalimat ini. Sangat mengganggu tentunya, apalagi teman-teman di @arakata mulai menjalankan kegiatannya dengan menulis yg bertema mudik. Saya tiba-tiba hang. Bingung mau nulis apa dan mulai dari mana. Tapi saya sudah berjanji akan menulis dan menyetornya tepat waktu maka saya tulis saja dengan begini rupa:

1) mudik adalah cara diri seseorang menyelamatkan diri dari kekacauan dan kicauan yang bertebaran. Kota adalah tempat dimana kau atau aku sama-sama di cekik udara dan merasa ingin pindah sekedar berganti latar.

2) mudik bagi saya adalah wacana, sejak lima tahun terakhir saya mendiami kota ini dengan hiruk pikuknya dan harus saya tanggung setiap datang tradisi mudik saya sudah terbiasa hidup dengan membangkang. Saya tumbuh di kampung dan lumpuh di kota.

3) mudik berisi kepergian dan lambaian tangan dari seorang petualang akan pulang memikul rindunya. bagi saya mudik itu mencekap mirip seperti orang-orang yang hilang di renggut kekuasaan.

4.) Mudik itu mengusik. Jalan-jalan, terminal, bandara dan disemua tempat adalah titik pisah antara pelarian dan keinginan yang lama terpendam. Seorang seperti saya akan lebih mudah berandai-andai dengan kepergian sebab menetap tidak menjamin bayangan pematang sawah, kicau burung, rumah panggung, udara sejuk, begitu ramai dalam kepalaku.

5) mudik harus dimodifikasi. Saya pernah berangan-angan kalau setiap yang pergi tidak usah kembali dan yang ditinggal patut menyusul. Saya ingin melihat setiap kota penuh dan tidak tumpah. Semua orang berdiam dan tidak kemana-mana. Saya membayangakn diri saya disana sedang mengharap kiamat lebih cepat.

6) mudik perlu fasilitas yang lengkap. Bagi seorang yang pulang mesti dapat pelayanan yang memadai. Mungkin salah satu agenda penting saya jika jadi tokoh pemerintahan kelak. Setiap pemudik dibekali dengan jaminan keselamatan, ruang tunggu diterminal dan bandara akan di hibur orang-orang kesenian. Dalam perjalanan, ada panti pijat untuk pe-roda dua, yang kembali dari kampung jalur udara disambut oleh artis ibu kota. Tapi sebelumnya, saya sudah membakar semua kampung halaman orang-orang karena saya butuh keramaian setelah sepi ditinggal mudik orang-orang.

7) mudik adalah fantasi sesaat bagi orang yang depresi. Kadang sesuatu butuh kebaruan. Dengan ber-mudik orang-orang dapat memperbaharui titik temunya dengan keluarga, kerabat dan sanak famili lainnya. Saya membayangkan pintu di isi pelukan isak tangis dan ruang tamu pecah kisah lucu dan para cucu-cucu. Jangan lupa, reunian dengan teman SMP, SMA bahkan teman sepermainan. Kita datang dengan segudang cerita yang tidak kita miliki.

8) jika saya mudik maka akan asing sendiri dengan perjalanan, pertemuan, dan ruang bersama. Mungkin kebiasaan baru menjadi ancaman tersendiri bagi saya. Tapi jika diberi kesempatan saya hanya ingin membawa sedikit bekal kata untuk ukiran nisanku kelak. Saya ingin dikubur di kampung halaman dan sebuah pohon gersen diatasnya berharap anak-anak kampung datang memetik buahku yg kecut. Saya akan tertawa mendegar mereka mencicipi buahnya sambil berbicara dalam hati. Begitulah rasanya orang yang lama tinggal dikota: kecut bukan!

9) mudik adalah sebuah dimensi spritual. Seperti pepetah yg bilang “yang mengenal dirinya yang mengenal Tuhannya.” Saya juga berkila dari kalimat diatas jika perjalanan terjauh adalah diri sendiri. Siapa saja boleh pergi tapi sekali lagi kita sulit melupakan kepulangan. 

10) mudik itu dialami bukan untuk diamati. Tapi saya sudah mengamati mudik lewat siapa saja yang ingin pergi menjenguk atau memungut jejak kenangannya kembali. Saya tidak berhak 

Plagiarisme Taufiq Ismail

boemipoetra

Catatan: Coba perhatikan kedua sajak di bawah. Sajak pertama adalah karya penyair Amerika bernama Douglas Malloch (1877 – 1938) dan sajak kedua konon karya penyair Angkatan 66 Taufiq Ismail. Pada “sajak” Taufiq Ismail tsb memang terdapat beberapa perubahan kata tapi perubahan tsb tidak membuat sajak itu menjadi sebuah sajak “baru” apalagi menjadi karya Taufiq Ismail! Paling tidak, sajak kedua di bawah lebih pantas disebut sebagai “sajak saduran”. Mengklaim “sajak saduran” tsb sebagai karya sendiri adalah sebuah penipuan dan pencurian Hak Cipta seniman aslinya alias plagiarisme!

=======

Be the Best of Whatever You Are

by Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,

And some…

Lihat pos aslinya 186 kata lagi

Puisi Edgar Allan Poe

A DREAM  WITHIN A DREAM

Taruhlah kecupanmu di kening

Pisahkan dari dirimu sekarang

Hingga sepenuhnya aku mengakui

Kau tak lagi keliru, menganggap

Hari-hari aku yang begitu mimpi

Keinginan yang jauh melayang

Di malam, di siang

Di harapan, di kehampaan.

Tersebab itukah kepergian?

Seluruh yang kita lihat dan nampak seolah-olah

sebuah mimpi di dalam mimpi

Aku berdiri diantara deru

pangkal—ombak—kesedihanmu

Dan menggenggam diriku sendiri,

Sebagaimana hamparan kekuningan

pasir yang berbiji-biji.

Sedemikian  papanya, mereka merayap

melewati jari-jariku

Sementara aku menangis—aku menangis.

O tuhan, tak dapatkah itu semua aku miliki

dengan sesuatu yang lebih erat dari genggaman?

O tuhan, tak dapatkah salah satu riuh beringas

dari gelombang itu aku simpan?

Apakah yang kita lihat dan nampak memang

sekedar mimpi di dalam mimpi?

[Edgar Allan Poe]

Bunyi, kembali!

Aku belum tidur. Sunyi

Bunyi aku dengar berkali-kali kembali kedadaku. Getar

Gemar datang sebagai tamu, dan kau paham mengapa aku sendiri-keluar adalah kecemasan yg baru.

Seseorang harus tahu didalam aku. Ada pelaku merekam jejaknya sendiri sebagai waktu. Menunggu adalah kata-kata tangguh namun tunduk pada aturannya sendiri, dia atau kau yang kesebut tadi belum juga berbunyi.

sunyi!

Kembali!

Merawat Kisah Ekalaya

Dalam karya besar Mahabrata kita mengenal cerita Pandawa dengan segala ketokohannya tapi sisi lain pernahkah kita mengenal sosok ekalaya?

diceritakan bahwa Ekalaya ingin belajar memanah dari guru Drona, seorang ahli panah yang khusus melatih para Anak bangsawan termasuk pandawa. pernah suatu ketika Ekalaya datang menemui guru Drona untuk menjadi muridnya dalam hal belajar memanah tapi ditolak oleh Guru Drona karena Ekalaya bukan dari golongan bangsanwan.

Ekalaya sangat kecewa karena ambisinya gagal untuk dapat belajar memanah, tetapi Ekalaya tidak patah semangat. dengan kesungguhan hatinya ia membuat patung Guru Drona dan memperlakukan patung itu seolah hidup yang mengajarkannya memanah, ia terus berlatih dari hari ke hari hingga akhirnya ia menjadi pemanah yang handal dan sakti.

disuatu kesempatan Para pandawa berburu dan Arjuna yang dikenal sebagai ahli panah tiada tanding membidik rusa buruannya namun ada anak panah yang lebih dulu menembus mulut rusa tersebut dan Arjuna heran menyaksikan keahlian memanah bahkan melebihi kemampuannya, maka Arjuna dan Guru Drona mencari tahu siapa yang menguasai kemampuan memanah diluar dari dirinya.

ditemukanlah Ekalaya yang terkesima karena bertemu dengan Guru yang dia idam-idamkan sejak lama. diceritakanlah bagaimana ia belajar secara otodidak hanya dengan membuat patung Guru Drona sebagai guru panahnya. mendengar itu maka Guru Drona khawatir jika kesaktian Ekalaya mengancam posisinya sebagai guru dimata Arjuna. Guru Drona menganjurkan bahwa apa yang dilakukan oleh Ekalaya adalah sebuah ketidakpantasan. untuk menebus apa yg dilakukan Ekalaya, Guru Drona meminta Ekalaya agar memotong Ibu jarinya akibat dari ulahnya membuat patung dirinya.

atas dasar kesetiaan dan kekaguman Ekalaya pada Guru Drona maka Ekalaya bersedia memotong Ibu jarinya untuk tebusan pada Guru Drona. tapi setelahnya, keahlian memanahnya melemah dan tidak sehebat sebelumnya. dari tragedi ini membuat Arjuna tetap menjadi seorang pemanah yg terkuat sejagat raya.

dari kisah ini saya merasa Ekalaya memenangkan kehidupan dari kisahnya yang patah, bagaimana kesungguhan dan keinginananya memiliki Guru yang dapata mengajarkannya memanah. dalam hidup ini kadang harapan itu tumbuh dari keadaan yang patah bahkan seseorang bisa melampaui batas setelah mencintai seseorang yang juga akan mematahkannya.

Puisi yang pedih -Pablo Nureda

Malam ini aku mampu menulis larik-larik paling pedih
Menulis, misalnya ‘Malam runtuh dan bintang menggigil di kejauhan’
Udara malam berpusar di angkasa dan bernyanyi
Malam ini aku mampu menulis larik-larik paling pedih

Aku pernah mencintainya, dan sesekali dia pernah mencintaiku pula.
Melewati malam-malam seperti ini, aku merengkuhnya dalam pelukanku

Mengecupnya lagi dan lagi, bernaung langit tak berkesudahan
Dia pernah sesekali mencintaiku, dan aku pernah mencintainya pula.

Bagaimana mungkin aku mampu tak mencintai matanya yang dalam dan tenang?
Malam ini aku mampu menulis larik-larik paling pedih

Mengingat aku tak lagi memilikinya, merasakan kehilangan atas dirinya
Mendengar malam yang mencekam, lebih kejam karena ketiadaannya

Dan bait-bait puisi menghujani jiwa layaknya embun menetesi padang rumput
Tak mengapa bila cintaku tak sanggup menahannya

Langit meruntuh, dan dia tak lagi denganku
Begitulah. Di kejauhan seseorang bersenandung. Di kejauhan

Jiwaku amatlah mati karena kehilangannya
Pandanganku mencarinya seakan akan aku akan pergi menuju kearahnya

Hatiku menelusuri keberadaannya, dan dia tak lagi bersamaku
Malam yang sama, memutihkan pepohonan yang sama

Kami, yang dulu satu, kini tak lagi sama.
Aku tak lagi mencintainya, itu pasti. Namun betapa dahulu aku mencintainnya

Suaraku berusaha menggapai angin untuk menghantar suaraku menuju telinganya
Milik yang lain. Dia akan menjadi milik yang lain. Seperti kecupanku memilikinya dahulu.

Suaranya. Tubuh cemerlangnya. Matanya yang bulat meneduhkan.
Aku tak lagi mencintainya, itu pasti. Namun mungkin aku masih mencintainya

Mencintai sungguh mudah, melupakan tak terkira waktunya.
Karena malam-malam seperti ini sebelumnya, aku merengkuh dia dalam pelukanku

Jiwaku sangatlah mati tanpa kehadirannya.
Mungkin ini akan menjadi luka terakhir yang ia ciptakan dan membuatku menderita

Dan inilah bait-bait terakhir yang aku tulis untuknya

Kehilangan

Kepada : Aqmal F.

Harusnya Ibu tahu kapan waktu ia harus pergi dan tetap disini. Mendekap aku sekali lagi sebelum pergi.

Aku tidak tahu pada saat terlahir kenapa aku harus menangis pertama kali dan siapa yang aku kenali pertama kali.

Tapi aku tahu kenapa Ibu suka marah dan membenci baju kotorku. Seperti aku membenci keramaian dan pusat perbelanjaan.

Apa yang tumbuh ditubuhku adalah hasil suapan Ibu dan setiap usapannya menjalar ke seluruh persendian hidupku.

Ibu selalu menginginkan aku tumbuh menjadi seorang yang berarti tanpa memikirkan diri sendiri.

tapi seorang anak hanya memiliki satu permintaan.

Bisa kah seorang anak meminta Ibu tidak pergi?

Kepergian Puisi

Saat puisi diciptakan

Sebuah amplop menunggu bersama selembar foto lampau bersiap dikemas rapi. Tapi puisi tak kunjung usai.

Disamping meja, keranjang sampah telah menampuk remukan kertas kosong hasil amukan seorang. Sudah hampir pagi tapi puisi lebih memilih ditidurkan.

*

Agena telah menunggu selembar puisi, ia gigil dan sekarat menanti. Segelas air tidak menghangatkan tangannya yang dingin getar. Di biarkan pintu tetap terbuka. Sebentar lagi puisi akan datang. Katanya.

*

Lelaki itu terbangun melihat puisi tidak didalam kertas, disingkapnya laci, bantal disemua tempat puisi dapat sembunyi. Dilihatnya, jendela terbuka lebar dan deruh angin mengisyaratkan sesuatu telah pergi. Baru saja ia ingin menuliskan mimpinya; bumi akan runtuh sebentar lagi.

*

Puisi lebih dulu pergi mencari alamat Agena, sebelum semua terlambat. Mencari dari rumah ke rumah, jiwa ke jiwa dan di jalan-jalan yang pernah di jejaki Agena. Setiap kali puisi ingin masuk, seketika ia mengetuk sekejap ia dikutuk. Di usir dan di gulir pergi. Kesana kemari dan tidak menemukan tempat bahkan untuk bernaung

Lalu, puisi memecah dirinya sendiri, menjadi kepingan-kipingan kata yang terurai dan orang-orang berebut memungutnya. menjadikannya hiasan, hujatan, pujian juga keuntungan.

mereka lupa, perpisahan adalah bencana. Ketika semua orang memiliki kata-kata, tidak ada lagi yang butuh siapa. Tapi puisi adalah penyembuh orang-orang yang saling merindukan.

*

Agena menunggu kecupan kekasih lewat puisi yang tak kunjung. Ia tahu seseorang telah berusaha mencipta puisi dari sana.

Tiba-tiba awan gelap, sebentar lagi dunia akan runtuh.